Oleh: Telaga Kautsar | Mei 10, 2011

Ancaman pornografi dalam film kartun?

Bogor. 10 Mei 2011

Film kartun saat ini sudah mengalami perkembangan sangat pesat, apalagi sejak ditemukannya software program animator yang dapat membuat gambar kartun lebih hidup nyaris menyerupai wujud aslinya, maka revolusi dalam teknologi film kartun pun dimulai.  Asumsi lama bahwa Film Kartun adalah tontonan yang lucu dan menyegarkan -karena dapat mengendurkan urat syaraf yang tegang- nampaknya sudah tidak berlaku lagi diera kini. Dari beberapa kali mengikuti seminar pendidikan saya menyimpulkan bahwa film kartun ataupun komik kartun yang kini dapat ditemui dengan mudah di banyak toko buku sudah tidak aman lagi di lihat ataupun dibaca oleh putra-putri kita tanpa kontrol dan pendampingan dari orang tua. Pasalnya media kartun saat ini sudah sarat dengan muatan ideology kafir Barat yang bertujuan untuk merusak generasi muslim. Disamping tampilannya tokoh kartunnya yang tidak senonoh, muatan ceritanyapun banyak tidak mendidik bahkan merusak. Kalau dicermati dengan seksama adegan yang diperanakn dalam film kartun adalah adegan orang-orang dewasa. Bedanya dengan sinetron adalah pelakunya saja. Dalam film kartun jelas pelakunya adalah gambar-gambar bergerak sedangkan dalam sinetron adalah manusia. Dalam salah satu cuplikan film kartun Afatar, misalnya terdapat adegan kissing dalam durasi yang cukup panjang dan di closeup, begitu juga dalam film kartun Naruto sarat dengan adegan kekerasan yang dilatar belakangi tujuan balas dendam. Yang satu mengajarkan pola hidup bebas atau serba boleh, yang lain mengajarkan sikap balas dendam dan kekerasan fisik untuk menyelesaikan setiap persoalan. Seolah-olah prilaku tersebut boleh dilakukan bila terjadi dalam dunia kartun. Padahal jelas menurut para pakar psikologi, perilaku tersebut sama-sama berdampak buruk terhadap perkembangan jiwa anak, karena efek psikologisnya tetap akan terekam dalam benak anak yang melihatnya.

Maka bagi orang tua yang masih memiliki kepedulian terhadap kesehatan perkembangan jiwa anaknya, tidak ada cara lain untuk membentengi putra-putrinya dari pengaruh buruk film kartun adalah dengan cara mendampinginya saat menonton film tersebut, bahkan kalau bisa mengurangi frekuensinya seminimal mungkin. Untuk itu orang tua yang bijak harus mampu memberikan hiburan alternative yang tidak saja menarik tapi juga memiliki nilai edukasi. Akhirnya, sebagai konsekuensi logis yang harus dilakukan oleh para orang tua adalah belajar, belajar dan belajar. Lakukanlah dengan dengan penuh kesadaran dan disengaja. Mulailah dari hal-hal kecil tapi dengan cinta yang besar.

Selamat menjadi orang tua yang tangguh, tetap semangat. [GS]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: