Oleh: Telaga Kautsar | November 17, 2011

Ayah Merasa Terabaikan

Posted by .net

Ayah Merasa Terabaikan

Ketimbang cemburu pada kedekatan bayi dan istri, bertindaklah bak Romeo untuk mendapatkan kembali perhatian istri.

KEHADIRAN putra pertamanya membuat Dony, 27 tahun, merasa makin jauh dari istrinya. Dewi istrinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani dan merawat buah hati mereka.

Dony juga cemburu saat melihat Rangga, jagoan ciliknya, menyusui. Keintiman yang terjalin antara Rangga dan Dewi membuat Dony merasa diabaikan.

Perasaan terabaikan para ayah memang normal dan biasa. Namun, jika berlarut-larut akan menimbulkan persoalan baru jika tidak segera diselesaikan.

Wajar jika istri Anda sibuk menangani berbagai urusan si kecil, tapi juga jangan sampai merusak relasi Anda sebagai suami istri.

Agar perasaan terabaikan tidak terus mengganggu, ayah harus mengutarakan perasaannya. Mungkin istri Anda tidak sadar saat sedang mengenali bayinya dia mulai kehilangan kontak dengan suaminya.

###

Biarkan istri tahu bahwa Anda menghargai semua yang telah dilakukan bersama si kecil, tapi katakan Anda juga membutuhkan perhatiannya.

Jika waktu berdua dengan istri menjadi barang yang langka kenapa Anda tidak bergabung sekalian saja dengan mereka.

Ikutlah merawat si kecil sehingga istri juga dapat mempunyai waktu lebih banyak untuk Anda.

Buatlah persetujuan untuk menyisihkan waktu satu jam setiap malam untuk berdua. Anda bisa makan malam bersama dan mengobrol (tidak lagi membahas si kecil) agar saling mengenal kembali.

Anda juga harus mengerti jika istri kurang tertarik membicarakan masalah orang dewasa dan malah tertidur di depan televisi. Lakukan beberapa tindakan romantis seperti memberikan bunga atau memeluk dia dari belakanga saat sedang mengambil popok.

Bertindaklah seperti Romeo yang gencar mendekati, tak lama lagi ia akan kembali menjadi Juliet Anda.

Oleh: Telaga Kautsar | Juli 23, 2011

Kalender Libur Nasional 2011

Penetapan daftar libur dan cuti bersama tahun 2011 ini disahkan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama (Nomor 1 Tahun 2010), Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nomor: KEP 110/MEN/VI/2010) dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara:

Kalender Libur Nasional 2011
1-Jan
Tahun Baru Masehi
Libur Nasional
3-Feb
Tahun Baru Imlek 2562
Libur Nasional
15-Feb
Maulid Nabi Muhammad SAW
Libur Nasional
5-Mar
Nyepi Tahun Baru Saka 1933
Libur Nasional
22-Apr
Wafat Yesus Kristus
Libur Nasional
17-Mei
Hari Raya Waisak tahun 2555
Libur Nasional
2-Juni
Kenaikan Yesus Kristus
Libur Nasional
29-Juni
Isra Miraj Nabi Muhammad SAW
Libur Nasional
17-Agust
Hari Kemerdekaan RI
Libur Nasional
29-Agust
Cuti Bersama Idul Fitri
Cuti Bersama
30-Agust
Idul Fitri 1 Syawal 1431 H
Libur Nasional
31-Agust
Idul Fitri 1 Syawal 1431 H
Libur Nasional
1&2-Sep
Cuti Bersama Idul Fitri
Cuti Bersama
6-Nov
Idul Adha 1431 H
Libur Nasional
27-Nov
Tahun Baru Islam 1433 H
Libur Nasional
25-Des
Hari Raya Natal
Libur Nasional
26-Des
Cuti Bersama Natal
Cuti Bersama
Oleh: Telaga Kautsar | Juli 23, 2011

Muhammad “Guru” Dunia

dakwatuna.com – Adalah Muhammad saw. Nabi untuk kemanusiaan… kedamaian tersemaikan, kesejahteraan terealisasikan…. Allah swt. memberi kelebihan dan keutamaan kepada kita, umat Muhammad, berupa misi beliau yang menebar rahamatan lil ’alalim. Sungguh benar firman Allah swt,

”Dan Kami tidak mengutus kamu, kecuali sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta.” Al Anbiya’:107

Kasih sayang Muhammad saw. meliputi hewan dan tanaman. Terhadap burung dan unta misalkan, atau terhadap pelepah kurma yang merintih, sehingga hati beliau tersayat ketika mendengar rintihannya.
Tentunya, terhadap manusia beliau lebih sayang, terutama kepada anak-anak.

Muhammad saw. merupakan contoh agung dalam berkasih sayang dan bersikap lembut terhadap anak-anak. Beliau teladan besar dalam mendidik anak-anak kita.

Adalah Muhammad saw. sebagai ayah yang penyayang, sebagai kakek yang lembut dan penuh perhatian terhadap semua anak-anak… Inilah pribadi Muhammad, Nabi kemanusiaan saw.

Sungguh, Muhammad saw. memberi pelajaran dan pengalaman berharga bagi kita semua dalam hal mendidik anak-anak kita. Agar kita mampu mencetak generasi yang mampu mengemban tanggungjawab luhur dan mengangkat tinggi panji Islam.

Pokok-Pokok Pendidikan Muhammad

Sirah Nabi telah mengajarkan kepada kita prinsip-prinsip pendidikan, yaitu pentingnya anak-anak memiliki percaya diri, mandiri dan mampu mengemban tanggungjawab di usia dini. Inilah problematika kita sekarang, anak-anak kita kehilangan sikap percaya diri, mandiri dan mental dewasa.

Kita berhajat untuk mengingat peristiwa di mana Muhammad saw. menjadikan Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan kaum muslimin, meskipun usianya masih muda belia. Ketika itu umurnya baru enam belas tahun (16), padahal ada orang yang lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya, seperti Abu bakar, Umar radhiyallahu anhum. Kenapa Muhammad melakukan hal demikian? Adalah karena beliau ingin mengajarkan kepada Zaid rasa percaya diri, dan agar menghilangkan anggapan sebagian orang bahwa Zaid tidak mampu, sekaligus sebagai pembelajaran bagi generasi masanya untuk peduli dengan problematika umat dan berkontribusi menyelesaikannya.

Pendidikan Sikap dan Perilaku

Muhammad saw. mengajarkan dasar-dasar ajaran agama yang lurus kepada anak-anak sejak dini. Beliau mendorong mereka untuk mempelajari etika umum dan perilaku lurus yang orang Barat sekarang menamakannya sebagai ”Seni Etika”.

فقد روى البخاري ومسلم أن عمر بن أبي سلمة، قال:” كنت غلامًا في حجر رسول الله، وكانت يدي تطيش في الصفحة، فقال لي رسول الله “يا غلام، سمِّ الله، وكل بيمينك، وكل مما يليك”، وعندما أراد الحسين- رضي الله عنه – أن يأكل تمرة من تمر الصدقة، قال له الرسول : “كخ كخ، أما علمت أنا لا تحل لنا الصدقة؟!”

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah, ia berkata: ”Ketika saya masih kecil di asuhan Rasulullah, saya hendak meraih makanan di nampan, maka Rasulullah saw. bersabda, ”Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang terdekat dari kamu.”

Ketika Husain ra, cucu Nabi hendak makan kurma dari hasil sedekah, maka Rasulullah saw. bersabda, ”Jangan, jangan. Bukankah kamu tahu, bahwa tidak halal bagi kita -keluarga NAbi- sedekah seseorang?!.”

Ayah Yang Penyayang

Ketika kita berbicara kasih sayang dan kelembutan Muhammad saw. terhadap anak-anak, maka tidak akan pernah kita temukan bandingan dan permisalan seperti beliau saw. Banyak peristiwa dalam sirah Nabi yang mempesona berkaitan dengan kasih sayang beliau terhadap anak-anak. Baik beliau sebagai Ayah, Kakek atau Pendidik bagi semua anak-anak. Termasuk kasih sayang beliau terhadap anak-anak non muslim.

فقد كان النبي- صلى الله عليه وسلم- يرفع ابنته فاطمة الزهراء – رضي الله عنها – وهي صغيرة عاليا ثم ينزلها ويفعل هذا عدة مرات، ثم يقول “ريحانه أشمها ورزقها على ربها”،

Adalah Muhammad saw. mengangkat dan melempar ke atas putri kecilnya, Fathimah Az Zahra’ ra tinggi-tinggi dan menangkapnya. Beliau melakukan iti beberapa kali, kemudian beliau bersabda, ”Semoga harum namanya dan luas rizkinya.”

Adalah Muhammad sangat mencintai cucu-cucunya.

وكان النبي- صلى الله عليه وسلم- محبا لأحفاده وكان كثيرا ما يقوم بتدليلهم فعن جابر يقول” دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم، وهو يمشي على أربعة وعلى ظهره الحسن والحسين – رضي الله عنهما- وهو يقول “نعم الجمل جملكما ونعم العدلان أنتما”، وروى الإمام أحمد في مسنده،

Diriwayatkan oleh Jabir, berkata, ”Saya menemui Nabi saw, ketika beliau berjalan merangkak sedangkan di atasnya Hasan dan Husain ra sedang bercanda. Beliau bersabda, ”Seganteng-ganteng orang adalah kalian berdua, dan seadil-adil orang adalah kalian berdua.”

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, berkata, ”Kami shalat Isya’ bersama Nabi. Ketika Nabi sujud, Hasan dan Husain menaiki punggung Nabi. Ketika beliau mengangkat kepalanya, beliau mengambil keduanya dari sisi belakang dengan cara lembut dan menaruh keduanya di lantai. Ketika beliau sujud kembali keduanya mengulangi seperti sebelumnya sampai beliau selesai shalat. Kemudian beliau mendudukkan salah satunya di pahanya.”

Dari Usamah bin Zaid ra, Rasulullah saw mengambil saya dan mendudukkan saya di pahanya sedangkan di paha satunya duduk Hasan ra, kemudian beliau merangkulkan keduanya seraya berdo’a, ”Ya Allah sayangi keduanya, karena saya menyayangi keduanya.”

Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, berkata, ”Adalah Rasulullah saw sedang berkhutbah, ketika itu Hasan dan Husain memakai baju merah berjalan-jalan dan mutar-mutar di dalam masjid. Maka Rasulullah saw. turun dari minbar dan mengambil keduanya, dan menaruhnya di dekatnya seraya bersabda, ”Sungguh benar firman Allah, ”Sesungguhnya harta-harta dan anak-anak kalian adalah fitnah bagi kalian.” Saya lihat kedua anak ini jalan-jalan, sehingga saya tidak bersabar, saya memotong khutbahku agar saya mengambil keduanya.”

وجاء الأقرع بن حابس إلى رسول الله فرآه يقبّل الحسن بن علي،” فقال الأقرع: أتقبّلون صبيانكم؟! فقال رسول الله: (نعم)، فقال الأقرع: إن لي عشرةً من الولد ما قبلت واحدًا منهم قط، فقال له رسول الله : (من لا يرحم لا يرحم) متفق عليه.

Al Aqra’ bin Habis datang menemui Rasulullah saw. Ketika itu ia melihat beliau mencium Hasan bin Ali ra. Maka saya bertanya, ”Apakah kalian mencium anak-anak kalian?” Rasulullah saw. menjawab, ”Ya”. Al Aqra’ berkata, ”Sungguh, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah sekali pun saya mencium salah satu dari mereka.” Maka Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa yang tidak sayang, ia tidak akan disayang.” Muttafaqun ’Alaih.

Perilaku Muhammad saw. yang demikian tidak hanya kepada keluarganya saja, tapi untuk semua anak-anak pada masanya, sampai pembantunya sekalipun. Adalah Anas Bin Malik memberi kesaksian, ”Saya telah sepuluh tahun menjadi pelayan Rasul, selama itu beliau tidak pernah berkata uf atau hus ata ah kepada saya.”

Adalah Muhammad saw. sangat menganjurkan agar memberi nama anak dengan sebaik-baik nama, begitu juga beliau sangat tidak setuju dan melarang pemberian nama yang buruk. Kenapa? Karena nama itu jangan sampai mempengaruhi mentalitas anak ketika mereka menginjak dewasa.

Muhammad saw. juga sangat memperhatikan penampilan anak-anak.

فعن نافع بن عمر أن النبي – صلى الله عليه وسلم – رأى صبيا قد حلق رأسه وترك بعضه فنهاهم عن ذلك وقال “احلقوه كله أو اتركوه كله”،

Diriwayatkan dari Nafi’ bin Umar, bahwa Nabi saw. melihat anak kecil rambutnya dipotong separuh dan separuh lagi dibiarkan, maka beliau melarang hal yang demikian, seraya bersabda, ”Cukur semuanya atau tidak sama sekali.”

Inilah bukti kepedulian beliau terhadap penampilan anak, agar anak-anak tampil lebih baik, yaitu tampilan Islami. Contoh peristiwa kepedulian Muhammad saw. terhadap pendidikan perilaku dan kasih sayang beliau terhadap anak-anak sangatlah banyak sekali.

Penyayang Terhadap Non Muslim

Muhammad saw. tidak hanya penyayang terhadap anak-anak muslim saja. Namur beliau juga penyayang terhadap anak-anak non muslim.

Adalah kisah anak non muslim Abu Mahdzurah, si pemilik suara merdu. Ketika dia mengejek adzan. Bagaimana Muhammad saw. Memperlakukannya? Beliau tidak memarahinya atau menghukumnya atas ejekan itu. Bahkan beliau mengusap kepalanya seraya berdo’a, “Ya Allah, berilah keberkahan terhadapnya dan tunjukilah dia kepada Islam, beliau mengucapkan itu dua kali. Selanjutnya beliau menyuruh dia mengucapkan, “Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar” sampai akhirnya Abu Mahdzurah adzan di Makkah, Subhanallah!

Muhammad saw. juga sangat peduli terhadap anak-anak non muslim yang sedang sakit, beliau mendo’akan kesembuhannya, beliau memegang tangannya dan mendo’akan kebaikan terhadapnya.

فقد ورد في صحيح البخاري عن أنس بن مالك رضي الله عنه، قال: “كان غلام يهودي يخدم النبي صلى الله عليه وسلم فمرض, فأتاه الرسول – صلى الله عليه وسلم- يعوده فقعد عند رأسه، فقال له أسلم فنظر إلى أبيه وهو عنده، فقال له: “أطع أبا القاسم”؛ فأسلم الصبي ,فخرج النبي- صلى الله عليه وسلم- وهو يقول الحمد لله الذي أنقذه من النار “

Diriwayatkan dalam shahih Imam Bukhari dari Anas bin Malik ra, berkata,
“Adalah seorang anak Yahudi menjadi pelayan Nabi sedang menderita sakit, maka Rasulullah saw. menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya seraya berkata kepadanya, “Berislamlah”. Anak tadi menoleh kepada ayahnya yang berada di sampingnya. Ayahnya berkata, “Ikuti Abal Qasim”. Maka bocah tadi masuk Islam. Lalu Rasulullah saw. keluar seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dia dari neraka.”

Sunggguh Agung Kepribadian Muhammad

Sungguh, sungguh menakjubkan pribadi engkau wahai Muhammad. Engaku tetap menjadi teladan, model dan idola yang layak dicontoh bagi setiap manusia dalam segala sisi kehidupan. Engkau adalah kasih sayang yang dihamparkan Allah swt. di muka bumi. Engkau telah menjadikan kami sebagai “khairu ummah”, sebaik-baik umat manusia.” Sungguh benar firman Allah swt,

”Sungguh, ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah, yaitu bagi siapa saja yang mengharap (berjumpa dengan) Allah dan Hari Akhir.” Al Ahzab:21

Shalawat dan salam untukmu Ya Rasulullah. Allahu A’lam

Emosi dapat dikembangkan oleh keluarga, sekolah dan lingkungan. Untuk mengembangkan emosi agar berdampak positif maka perlu dilakukan upaya proses belajar yang salah satunya dengan menggunakan metode atau kegiatan bermain. Melalui bermain anak dapat menumpahkan seluruh perasaannya, seperti: marah, takut, sedih, cemas atau gembira. Dengan demikian, bermain dapat merupakan sarana yang baik untuk pelampiasan emosi, sekaligus relaksasi. Misalnya saja pada saat anak bermain pura-pura atau bermain dengan bonekanya. Selain itu bermain juga dapat memberi kesempatan pada anak untuk merasa kompeten dan percaya diri. Dalam bermain, anak juga dapat berfantasi sehingga memungkinkannya untuk menyalurkan berbagai keinginan-keinginannya yang tidak dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata ataupun menetralisir berbagai emosi-emosi negatif yang ada pada dirinya seperti rasa takut, marah dan cemas.

 

John Mayer, psikolog dari University of New Hampshire, mendefinisikan kecerdasan emosi yaitu kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan cara mengendalikan emosi diri sendiri. Lebih lanjut pakar psikologi Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari

Pendidik dan Orang tua dapat mengembangkan keterampilan kecerdasan emosional seorang anak dengan memberikan beberapa cara yaitu:

1. Mengenali emosi diri anak , mengenali perasaan anak sewaktu perasaan yang dirasakan terjadi merupakan dasar kecerdassan emosional. kemampuan untuk memantau peraaan dari waktu kewaktu merupakan hal penting bagi pemahahaman anak.

2. Mengelola emosi, menangani perasan anak agar dapat terungkap dengan tepat kemampuan untuk menghibur anak , melepasakan kecemasan kemurungan atau ketersinggungan, atau akibat – akibat yang muncul karena kegagalan.

3. Memotivasi anak, penataan emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam keterkaitan memberi perhatian dan kasih sayang untuk memotivasi anak dalam melakukan kreasi secara bebas.

4. Memahami emosi anak.

5. Membina hubungan dengan anak, Setelah kita melakukan identifikasi kemudian kita mampu mengenali, hal lain yang perlu dilakukan untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional yaitu dengan memelihara hubungan.

6. Berkomunikasi “dengan jiwa “, Tidak hanya menjadi pembicara terkadang kita harus memberikan waktu lawan bicara untuk berbicara juga dengan demikian posisikan diri kita menjadi pendengar dan penanya yang baik dengan hal ini kita diharapkan mampu membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan anak dengan reaksi atau penilaian

1. Peran Orangtua dan pendidikan dalam mengembangkan Emosi Anak(usia 0-5 th)

Anak-anak usia 3,4,dan 5 tahun mengungkapkan sederetan emosi dan mampu menggunakan secara serasi ungkapan seperti, Gila,sedih ,bahagia, dan sudah bisa membedakan perasaan-perasaan ereka. Dalam tahu pra sekolah ini, situasi emosi anak-anak sanat tergantung keadaan dan bisa berubah secepat mereka berlih dari kegiatan satu ke kegiatan yang lain. Karena anak-anak berkembng dari anak usia 3 tahun ke anak usia 5 tahun, ada peningkatan internalisasi dn pengaturan tehadap emosi mereka. Ketika anak-anak usia 3,4 dan 5 tahunmencapai keterampilan-keterampilan kognitif dan bahasa ang baru, mereka belajar untk mengatur emosi-emosi mereka dan menggnakan bahasa untuk mengungkapkan bagaimana perasaan mereka dan perasaan orang lain. Gejolak perasaan ini sebagian besar ada di permukaan artinya mereka mulai mengerti brbagai perasaan berbeda yang mereka alami, namun mereka sulit mengatur perasaan dan meggunakan ungkapan yang sesuia untuk melukiskan perasaan itu. Gejala perasan merea sangat berhubungan dengan peristiwa-peristiwa perasaan yang terjadi pada saat itu. (Hyson,1994).

Peran Guru di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)dalam Perkembangan Emosi, Guru mengamati dan mengawasi serta berinteraksi dengan individu-individu dan kelompok-kelmpok kecil anak-anak dengan cara-cara terancang untuk memajukan belajar dan perkembangan anak:

Para guru masuk dalam diskusi-diskusi dengan anak-anak mengenai apa yang mereka lakukan menurut (Vygotsky 1986) ini disebut suatu ”dialog Pendidikan”.

Para guru mendorong anak-anak memecahkan masalah-masalah

Para guru mendengarkan dengan aktif gagasan-gagasan anak.

Para guur memberi umpan balik dan juga masuk dalam dialog dengan anak-anak.

Keterlibatan Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Keterlibatan orang tua selalu dianggap perlu, misalnya:

mengajarkan mereka kebiasaan bersih, melatih anak,(VandeWalker,1908).

Meneruskan pekerjaan sekolah dirumah mereka (epstein&sanders,2000)

Membaca abuku bersama-sama dan kemudian menulis cerita mereka sendiri dalam buku catatan (Barbour, 1999).

Dengan demikian merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, tempat anak tumbuh dengan nyaman, sehingga dapat memancing keluar potensi dirinya, kecerdasan dan percaya diri. Disamping itu orangtua perlu memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.

Pada masa-masa penting pertumbuhan tersebut, anak memerlukan asupan makanan bergizi yang cukup, disertai kasih sayang dan perhatian orang tua.

Pendekatan Hubungan Ibu dan Anak, menurut beberapa teori:

Ø Psikoanalitis: Pengasuhan anak mempengaruhi anak pada masa oral, anal, dan genital(Freud) misalnya menyusui, makan dan toilet training.

Ø Bowlby: Teori kelekatan artinya anak mencari kontak fisik dengan ibu, interaksi social menyenangkan, menghindari peristiwa atau orang berpotnsi membahayakan, yang menjelajah lingkungan non social

Perpisahan dari orang tua dan pengasuh utama kadang-kadang berat, khususnya disekolah dan bisa menjadi rasa tertekan(Denham 1998), untuk anak-anak usia 4 tahun, ketakutan yang berkaitan dengan perpisahan berlangsung singkat dan ketakutan itu lebih kuat pada orang tua ketimbang pada anak 4 tahun.

Kesimpulan:

Setelah mengerti bahwa pendidikan perlu melibatkan orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka guru menemukan segudang cara untuk melibatkan orang tua yang sibuk sebagai mitra dalam pendidikan anak mereka.

2. Peran Orangtua dan pendidikan dalam mengembangkan Emosi Anak(usia 6-12 th)

a. Tugas Perkembangan Anak (usia 6-12 th)

Menurut Havighurst (1972), tugas perkembangan anak usia sekolah (6 – 12 tahun) antara lain adalah :

1. Belajar bergaul dan bekerja sama dalam kelompok sebaya

2. Mengembangkan keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung

3. Mengembangkan konsep-konsep penting dalam kehidupan sehari-hari

4. Mengembangkan hati nurani, moralitas, dan system nilai sebagai pedoman perilaku

5. Belajar menjadi pribadi yang mandiri

Sejak masuk sekolah dasar, keinginan anak untuk menjadi anggota kelompok dan dapat diterima oleh kelompok sebayanya semakin meningkat. Keterampilan sosial menjadi penting, terutama mengenali peran sosial seseorang. Anak memusatkan perhatian untuk dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya. Anak belajar untuk memberi dan menerima di antara teman-temannya dan berkeinginan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kelompok.

Pada masa ini, pengertian anak tentang baik-buruk, tentang norma-norma aturan serta nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya menjadi bertambah dan juga lebih fleksibel, tidak sekaku saat di usia kanak-kanak awal. Mereka mulai memahami bahwa penilaian baik-buruk atau aturan-aturan dapat diubah tergantung dari keadaan atau situasi munculnya perilaku tersebut. Nuansa emosi mereka juga makin beragam.

Mereka diharapkan sudah dapat menguasai ledakan-ledakan emosinya, mampu mengendalikan emosi yang tidak sesuai dengan harapan lingkungannya. Telah pula nenahami harapan lingkungan terhadap peran jenis kelaminnya, dapat mengembangkan kata hati dan mengontrol moral yang tumbuh dalam dirinya.

Hubungan interpersonal yang mereka lakukan menjadi makin luas, kegiatan yang ingin dilakukan juga makin beragam. Dalam hubungan dengan kegiatan sekolah, prestasi menjadi tema utama bagi mereka, mereka senang berkompetisi. Mereka juga sudah dapat memperlihatkan tanggung jawab terhadap tugasnya. Anak-anak yang mampu menunjukkan prestasi akan bangga, dan hal ini tentu saja akan meningkatkan self-esteem (harga diri) anak.

Self-esteem yang tinggi akan mengarahkan pada kepribadian yang positif, sebaliknya bagi anak-anak yang tidak mampu memberi penghargaan pada dirinya akan menimbulkan masalah baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan.

Peran orangtua yang berkualitas dalam mengembangkan kecerdasan dan perkembangan emosi anak secara bertahap, akan mendorong potensi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemampuan kecerdasan yang yang tinggi, pengendalian emosi yang baik, serta kuat mental spiritualnya.

3. Peran Orangtua dan pendidikan dalam mengembangkan Emosi Remaja (12-19 th)

Sementara di masa remaja, masa yang sering dikatakan sebagai masa peralihan dari dunia anak menuju kekedewasaan yang ditandai dengan adanya perubahan-perubahan fisik maupun psikologis, memberi dampak tersendiri. Perubahan fisik yang pesat membawa dampak psikologis yang berkenaan dengan suasana hati, emosi maupun tingkahlaku yang menjadikan remaja tersebut menampilkan karekateristik yang berbeda dari masa sebelumnya.

Pada masa ini terjadi pergolakan emosi dan ketegangan psikologis yang muncul bersamaan dengan adanya perkembangan yang cepat baik dalam segi fisik maupun perkembangan karakteristik seksual sekunder, serta problem identitas dan konflik ketergantungan serta adanya konformitas dengan kelompok sebaya. Berkaitan dengan keadaan psikologis remaja, Erikson mengatakan bahwa saat ini adalah masa pemantapan identitas diri.

Sebelum remaja meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh dengan rasa aman dan tergantung pada orang lain, mereka harus mengetahui siapa mereka, kemana akan mengarah dan kemungkinan apa yang akan diperolehnya. Pendapat tentang ‘siapa dan apa’ dirinya ini merupakan konsep yang dimiliki untuk menunjukkan identitas diri. Keberhasilan seorang anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya juga bergantung pada bagaiman rasa tanggung jawab yang dimilikinya.

Bila seseorang berhasil dalam mengikuti tugas-tugas perkembangan ini maka anak akan merasa bahagia, disukai serta dicintai oleh lingkungannya. Ia pun tidak mudah menjadi cemas dan merasa tertekan, dengan demikian ia akan sukses di kelak kemudian hari.

Melihat hal-hal tersebut di atas, maka sesungguhnya tidak cukup seorang anak hanya memiliki prestasi sekolah yang tinggi, namun juga membutuhkan kecerdasan emosional dan dengan makin tercapainya kepuasan diri ia pun akhirnya mampu mencapai kecerdasaan spiritual.

Oleh: Telaga Kautsar | Juli 14, 2011

“METODE THD UNTUK MEWUJUDKAN WILAYAH BEBAS KORUPSI”

T-H-D adalah singkatan dari beberapa kata. “T” adalah Tafakur (contemplation), merenung. “H” adalah hisab, muhasabah, menghisab diri (self reflection), introspeksi, menimbang–nimbang
diri kita. “D” adalah dzikir (remembering) mengingat hidup, mengingat Tuhan. Kegiatan Tafakur, Hisab, Dzikir kita dijalani agar qolbu menjadi kokoh, lalu tumbuhlah iman.
Metode THD yang dikembangkan disini adalah suatu metode yang dapat menyentuh hati dan meningkatkan keimanan. Bila hati sudah tersentuh, sementara niat sebagai pangkal perilaku
ada di dalam hati, maka diharapkan kesadaran untuk tidak korupsi akan muncul.
“Ingatlah bahwa dalam tubuh terdapat sepotong daging, apabila ia baik maka baiklah badan itu seluruhnya, dan apabila ia rusak, maka rusaklah badan itu seluruhnya, ingatlah itu adalah
hati”. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Tafakur alam adalah proses merenung dan memperhatikan alam. Kita “melihat” kebesaran Tuhan di jagad raya dan sekaligus memahami betapa kecilnya manusia. “Melihat” mungkin
awalnya dengan mata fisik. Tetapi, lambat laun yang lebih utama adalah “melihat” dengan hati, dengan “mata batin”. Dengan tafakur, manusia memperoleh kesadaran, eksistensi diri sebagai
makhluk Tuhan, yang harus tunduk, taat dan berakhlaq baik. Agar manusia sadar, bahwa mereka adalah makhluk yang unik di jagad raya. dari banyak galaksi, hanya ada satu galaksi
Bimasakti. Dari sekian bintang Bimasakti, hanya ada satu matahari. Dari sekian planet di matahari, hanya ada satu yang bernama bumi. Dan dari sekian planet yang ada, hanya bumi yang
dihuni manusia. Paling tidak itu yang kita tahu. Padahal bintang-gemintang, jagad raya demikian luas, sangat-sangat luas. Matahari kita saja bagaikan setitik cahaya di angkasa nan luas. Selain
tafakur alam, kita juga menafakuri keajaiban yang ada pada diri manusia, mulai dari fenomena sel, fenomena kehidupan embrio dalam rahim, fenomena kerja otak, darah, dll yang
berlangsung dalam diri manusia yang berjalan dengan sangat teratur dan dibuat dengan sangat rumit dan teliti oleh Allah SWT.
Allah berfirman dalam salah satu ayat-Nya:
“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda – tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang yang mengingat Allah sambil berdiri,
duduk, berbaring, dan mereka memikirkan (tafakur) penciptaan langit dan bumi, seraya berkata “Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imron: 190-191).
Dengan menafakuri alam, kita akan “melihat” kebesaran-Nya dengan mata hati, akan menumbuhkan ke-YAQIN-an, keimanan. Dengan tafakur akan muncul “kesadaran”, bahwa kita adalah
makhluk yang diciptakan.
Muhasabah berasal dari kata “hisab”, mengevaluasi diri, menilai amal ibadah. Hisab adalah proses menghitung dan menimbang amal perbuatan diri. Qolbu kita menimbang – nimbang apa
yang kita lakukan.
“Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Alhasyr: 18).
Umar r.a berkata: “Hasibu anfusakum kobla antuhasabu”. Hisablah diri kalian, sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah kalian untuk yaumul hisab, karena hisab pada hari itu sangat berat bagi
mereka yang kurang menghisab dirinya.
Hisablah diri kita sebelum kita dihisab. Putuskan untuk memperbaiki diri kita sebelum kita diputuskan, dilemparkan ke neraka jahanam. Perbaiki diri kita mumpung batas usia masih tegak
berdiri. Mumpung nafas ini masih ada dalam jiwa. Mumpung hari – hari masih dapat kita lalui bersama. Inilah hasil kerja qolbu dan muhasabah. Kita menghisab diri menimbang-nimbang
diri, menyesalinya lalu tobat, beriman dan sadar bahwa visi hidup kita sebagai abid hamba Allah yang harus ikhlas dalam pengabdian kepada-Nya. Maka muhasabah adalah proses “Kiamat”
kecil, yaumul hisab kecil, pengadilan kecil yang kita hadirkan secara sadar setiap hari, dimana hakimnya adalah qolbu kita sendiri.
Dzikir adalah segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, baik berupa shalat, puasa, tasbih, tahmid, tahlil maupun membicarakan hukum halal-haram, belajar, jual-beli, nikah
termasuk dzikir. Namun, ada kriteria untuk dapat diterima Tuhan, yakni selama dilakukan dengan niat yang ikhlas. Dengan dzikir kita mengingat kehidupan ini, mengingat Allah SWT,
mengingat Nabi, dan mengingat maut. Sehingga kita tidak lupa diri, hingga hati kita semakin dekat kepada Allah, kepada Tuhan Pencipta manusia.
Firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah kamu dengan menyebut kalimat Allah SWT, dzikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (Q.S. Al-
Ahzab: 41-42).
Sesungguhnya Rasulullah SAW berdzikir kepada Allah SWT setiap masa, setiap saat setiap ada kesempatan. Tidak pernah berhenti menggetarkan bibirnya dan hatinya berdzikir kepada Allah
SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya segala sesuatu itu ada pembersihnya, ada obatnya. obat hati yang sakit adalah dzikir kepada Allah.” (Al Hadits).
Dengan dzikir kita dekat dengan Allah SWT, mengetahui arah, tujuan hidup kita di alam ini. Kita menjadi tahu misi kita, misi hidup otentik penciptaan manusia di bumi ini. Manusia
diciptakan sebagai khalifah.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzaariyaat: 56).
Sebagai hamba Tuhan, maka manusia harus ikhlas. Hamba Tuhan wajib memurnikan loyalitas pengabdiannya. Implementasi sebgai khalifah di muka bumi ini, maka misi hidup manusia
adalah memakmurkan, membangun, merawat, dan memelihara bumi. Sebagai khalifah menuntut prinsip hidup profesional dan ihsan. Ihsan, itqon dekat dengan makna profesional. Namun,
ada kualitas yang satu tingkat lebih tinggi dari profesional, dari profesi, yakni devosi. Devosi adalah sebuah profesi yang dihayati dengan baik, memadukan kompetensi, expertise, kolega,
networking dan responsibility etika, dengan unsur niat dan ibadah. Sebentuk cara mengabdi kepada Allah melalui jalur profesi, sebentuk kerja yang sarat unsur profetik dan religius di
dalamnya.
Melalui proses T-H-D, qolbu yang hidup akan menghasilkan satu nilai dasar, yakni keyakinan otentik hidup manusia IMAN. Satu nilai dasar iman. Dari iman memunculkan kesadaran hidup
manusiawi, yakni tiga utama: 1) eksistensi di alam sebagai MAKHLUK, 2) Visi diri sebagai ABID, dan 3) Misi hidup sebagai KHALIFAH. Dari sini kita lalu dikokohkan tiga Prinsip Hidup, yakni:
Prinsip AKHLAKUL KARIMAH, prinsip IKHLAS, dan prinsip IHSAN.
Hasil interaksi dari itu semua dalam hidup dan kehidupan akan mengantarkan manusia pada kesuksesan. Mereka akan berjalan dalam hidup ini dengan lurus dan berikrar secara jujur dalam
hati: bahwa: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Kami tak akan mengingkar, dan saksikanlah bahwa aku adalah orangorang
yang berserah diri.” (Q.S. Al – An’aam: 162).
Allah Maha Suci, dan hanya senang kepada yang suci. Allah membenci yang kotor. Kita datang kepada Allah dengan makanan yang haram, pakaian yang haram, hati yang kotor, apakah kita
masih berani memohon kepada-Nya?
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membeli baju dengan sepuluh dirham, sedangkan satu dirhamnya saja dari yang sepuluh itu haram, maka Allah SWT tidak akan menerima shalat
orang tersebut selama baju itu dipakainya.” (HR. Ahmad).
Muhasabah sangat perlu untuk kita lakukan. Apakah kita telah melaksanakan tugas dengan baik dan ikhlas? Bersungguh – sungguhkah ibadah kita kepada Allah SWT? Apakah bentuk
pengabdian kita sebagai khalifah di muka bumi? Apakah kita telah menjaga amal – amal itu dan menunaikan kewajiban kita dengan ihsan, penuh tanggung jawab, penuh kesadaran jiwa,
ataukah kita masih lalai dan bersenda gurau. Apakah kita mengambil hak – hak orang lain, hak yang bukan milik kita, merampas hak petani, hak orang, hak kaum miskin, hak anak yatim.
Kita ambil hak – hak mereka, semata – mata untuk kepentingan kita. Kita gunakan hak – hak mereka untuk membangun rumah, membeli mobil, membeli makanan untuk keluarga, bahkan
mendermakan kepada orang lain. Naudzubillahi mindzalik.
Kita menganggap itu bersih, halal, aman, sehat, selamat. Tidak ada yang tahu, polisi tidak tahu, jaksa tidak tahu, irjen tidak tahu, kita lupa bahwa Allah Maha Melihat apa yang kita kerjakan.
Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. Catatan Allah sangat teliti. Allah yang memberi kita kekuasaan, dan Allah dapat mencabut kekuasaan itu kapan saja. Tidak ada yang menjadi milik
kita seutuhnya. Allah berkuasa pada manusia, Allah berkuasa terhadap jiwa – jiwa manusia.
“Wahai Sa’ad, Sahabatku, perhatikan makananmu. Demi dzat Muhammad yang ada di tangan-Nya, sesungguhnya apabila seorang hamba makan walau hanya satu suap tetapi berasal dari
yang haram, maka tidak diterima amal ibadahnya selama 40 hari. Siapa saja manusia yang dagingnya tumbuh berasal dari sumber yang haram maka neraka lebih utama baginya.” (HR.
Thabrani).
Tempat kembali mereka yang mengambil hak – hak orang lain adalah neraka, dan sesungguhnya ia seburuk – buruk tempat tinggal bagi orang – orang yang zhalim, orang – orang yang tidak
tahu hak dan bukan hak, orang – orang yang tidak tahu memperlakukan sesuatu dengan adil. Naudzubillahi mindzalik.
*Disadur dari “Metode T-H-D untuk Sukses Hidup” dan “WBK Memberantas Korupsi dengan Sentuhan Hati” oleh Dr. Mulyanto, M.Eng.

Oleh: Telaga Kautsar | Juli 12, 2011

Autisme


Autisme merupakan gangguan proses perkembangan yang terjadi dalam tiga tahun pertama kehidupan. Hal ini menyebabkan gangguan pada bahasa, kognitif, sosial dan fungsi adaptif, sehingga menyebabkan anak-anak tersebut semakin lama semakin jauh tertinggal dibandingkan dengan anak seusia mereka ketika umur mereka semakin bertambah.

Autisme adalah suatu kondisi yang mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan social atau komunikasi yang normal. Hal ini mengakibatkan anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. ( Baron-Cohen, 1993 )

Sedangkan menurut Powers ( 1989 ) karakteristik anak autistic adalah adanya 6 gejala/gangguan, yaitu dalam bidang :

1. Interaksi Sosial :
* Tidak tertarik untuk bermain bersama teman
* Lebih suka menyendiri
* Tidak ada atau sedikit kontak mata atau menghindar untuk bertatapan
* Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misal bila ingin meminta kue
2. Komunikasi ( bicara, bahasa dan Komunikasi ) :
* Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada
* Senang meniru atau membeo (echolalia)
* Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara atau pernah berbicara tapi sirna
* Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya
* Mengoceh tanpa arti berulang-ulang dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain
* Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi
* Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya
* Sebagian dari anak ini tidak berbicara (non Verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa
3. Pola bermain :
* Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya
* Senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin,gasing dll
* Tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar-putar
* Tidak kreatif, tidak imajinatif
* Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana
4. Gangguan Sensoris :
* Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga
* Sering menggunakan indera pencium dan perasanya seperti senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda
* Dapat sangat sensitive terhadap sentuhan seperti tidak suka dipeluk
* Tidak sensitive terhadap rasa sakit dan rasa takut
5. Perkembangan terlambat atau tidak normal :
Perkembangan tidak sesuai seperti pada anak normal, khususnya dalam keterampilan sosial, komunikasi, dan kondisi – Dapat mempunyai perkembangan yang normal pada awalnya, kemudian menurun atau bahkan sirna, misalnya pernah dapat bicara kemudian hilang
6. Penampakan Gejala :
* Gejala diatas dapat mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil. Biasanya sebelum usia 3 tahun gejala sudah ada
* Pada beberapa anak sekitar umur 5 – 6 tahun gejala tampak agak berkurang

Gejala lain yang juga sering tampak adalah dalam bidang :

Perilaku

* Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar mendekatkan mata ke pesawat TV, lari/berjalan bolak-balik tanpa tujuan, melakukan gerakan yang diulang-ulang
* Tidak suka pada perubahan
* Dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong
* Emosi Sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan
* Temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau diberikan keinginannya
* Kadang suka menyerang dan merusak
* Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri
* Tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain

Tidak semua gejala diatas ada pada anak autistik. Gejala dapat beraneka ragam sehingga tampak bahwa tidak ada anak austistik yang benar-benar sama dalam semua tingkah lakunya. Sedangkan perbandingan laki-laki : perempuan adalah sekitar 4 : 1 dan terdapat pada semua lapisan masyarakat, etnik/ras, religi, tingkat social-ekonomi serta geografi (Holmes, 1998).

Oleh: Telaga Kautsar | Juli 12, 2011

Al-Quran Menenangkan Penderita Autis

Posted by: sca

Sejak kecil Hafiz mengalami autis. Dalam kesehariannya ia berteriak. Ajaibnya, ia lantas berhenti ketika dikumandangkan suara Syeikh Sudays

Hidayatullah.com–Namanya Hafiz. Ia lahir dari keluarga biasa di Kerala, India. AlQur’anHafiz, sejak kecil mengalami autis sehingga dalam kesehariannya hanya berteriak. Suatu saat, sang ibu, Fasila mencoba mengimbangi teriakan Hafiz dengan kaset bacaan ayat suci Al-Quran yang dikumandangkan Syeikh as-Sudays, imam Masjidil Haram Mekah yang terkenal. Tak dinyana, Hafiz tenang dan tak teriak lagi.

Yang mengagumkan, ketika sang ibu mematikan kaset iyu, Hafiz meneruskan bacaan Al-Quran. Sang ibu kaget melihat kemampuan Hafiz. Maka, orang-orang di sekitar diundang untuk mencek hafalan Hafiz, ternyata benar. Bacaan yang dialkukan Syeikh as-Sudais dibaca secara benar dengan suara yang dimiripkan dengan suara Sudais. Fasila teriak bahagia kala itu. Sehingga dengan sangat mengagumkan, Hafiz bisa menghafal Al-Quran yang berisi 114 surah ini dengan baik dan benar.

Dalam usia lima tahun Hafiz sudah hafal Al-Quran. Ia kini menjadi tenang dengan diputarkan ayat-ayat suci itu. Padahal, Hafiz bicara saja belum pernah becus. Suatu saat, Fasila mengajak Hafiz serta ayahnya Ashim Muhammad yang bekerja di Uni Emirat Arab untuk umrah. Ada tujuan lain disamping umrah, Ashim ingin mempertemukan Hafid dengan idolanya, Syeikh Sudais.

Tapi, Ashim keburu membawanya ke masjid Ar-Ruwaiys di Mekah yang khusus menangani anak-anak cacat. Mereka semua dibuat kagum dengan kemampuan hafalan Hafiz yang luar biasa.

Ayat Al-Quran telah membuat ketenangan buat dirinya dan hafalan Al-Quran itu telah menghiburnya serta kedua orangtuanya.

Demikian seperti diberitakan harian Al-Ittihad (Uni Emirat Arab) yang kemudian dikutip harian Khaleej Times edisi 16 Mei 2008. [ihj/www.hidayatullah.com]

6 Tanggapan terhadap “Al-Quran Menenangkan Penderita Autis”

1 | zaenal arifin toha,dr

sy ny zaenal, memang itu kuasa Allah.alhamdulillah memang mulai 8 bln jika mendengarkan kumandang adzan, anak sy arman (skrng kls 2 di SDNP gedangan surabaya)jadi melongo. skr udah bisa sholat meski gerakan cepat.yg aneh, untuk mengendalikan hyperaktivnya dengan mengaji,skr udah iqro’ 4.

2 | Hendra

Subhanallah…Saya juga punya anak autis 8,5th,dia juga senang azan apalagi melihat buku yang ada tulisan arab,anehnya dari umur 3 tahun dia membuka alqur’an tidak pernah terbalik…Mohon do’a ibu dan bapak2 agar anak kami dan penderita autis lainnya bisa seperti tokoh2 penemu sebelumnya…Amiiin…

3 | Rani nurhalina

exellent and very very great…

4 | hermanto

anak saya 16 th sering tantrum suka nyerang adiknya kalau marah suka teriak mohon saran bapak ibu yg punya pengalaman seperti saya

5 | Hairia KS

Subhanallah, anak saya Risya penderita autis…usianya skrg 12 thn, tapi dari umur 10 thn dia sdh bisa mengerjakan sholat, sekarang dia selalu sholat 5 waktu dan tepat waktu…apabila dengar azan dia langsung ambil wudu. Saya tidak pernah secara khusus mengajarinya sholat, secara tidak langsung dia belajar sholat bila saya ajak berjamaah dan bacaanpun saya kerasin, tidak disangka dia malah bisa mengahafal bacaan sholat tsb, alhamdulillah.

6 | ummi azhar

Saya mempunyai seorang anak autis yang sekarang berumur 3 tahun….mohon informasi, tentang komunitas orang tua autis n saya juga berminat untuk membuka sekolah autis, dimana saya bisa mencari info tentang pendirian sekolah tsb. mohon informasi di email ke jasmine_coll@yahoo.co.id
atas bantuannya saya ucapkan terima kasih, semoga Allah membalas kebaikannya….amiin

Oleh: Telaga Kautsar | Juli 8, 2011

TAFSIR BASMALAH

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Firman Allah

Bismillahirrahmaanirrahiim

“Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

Jar majrur (bi ismi) di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya anda membaca basmalah ketika hendak makan, maka takdir kalimatnya adalah : “Dengan menyebut nama Allah aku makan”.

Kita katakan (dalam kaidah bahasa Arab) bahwa jar majrur harus memiliki kaitan dengan kata yang tersembunyi setelahnya, karena keduanya adalah ma’mul. Sedang setiap ma’mul harus memiliki ‘amil.

Ada dua fungsi mengapa kita letakkan kata kerja yang tersembunyi itu di belakang.

Pertama : Tabarruk (mengharap berkah) dengan mendahulukan asma Allah Azza wa Jalla.

Kedua : Pembatasan maksud, karena meletakkan ‘amil dibelakang berfungsi membatasi makna. Seolah engkau berkata : “Aku tidak makan dengan menyebut nama siapapun untuk mengharap berkah dengannya dan untuk meminta pertolongan darinya selain nama Allah Azza wa Jalla”.

Kata tersembunyi itu kita ambil dari kata kerja ‘amal (dalam istilah nahwu) itu pada asalnya adalah kata kerja. Ahli nahwu tentu sudah mengetahui masalah ini. Oleh karena itulah kata benda tidak bisa menjadi ‘ami’l kecuali apabila telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Lalu mengapa kita katakan : “Kata kerja setelahnya disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang sedang dikerjakan”, karena lebih tepat kepada yang dimaksud. Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang belum menyembelih, maka jika menyembelih hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah “[1] Atau : “Hendaklah ia menyembelih atas nama Allah” [2]

Kata kerja, yakni ‘menyembelih’, disebutkan secara khusus disitu.

Lafzhul Jalalah (Allah).

Merupakan nama bagi Allah Rabbul Alamin, selain Allah tidak boleh diberi nama denganNya. Nama ‘Allah’ merupakan asal, adapun nama-nama Allah selainnya adalah tabi’ (cabang darinya).

Ar-Rahmaan

Yakni yang memiliki kasih sayang yang maha luas. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’laan, yang menunjukkan keluasannya.

Ar-Rahiim

Yakni yang mencurahkan kasih sayang kepada hamba-hamba yang dikehendakiNya. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’iil, yang menunjukkan telah terlaksananya curahan kasih saying tersebut. Di sini ada dua penunjukan kasih sayang, yaitu kasih sayang merupakan sifat Allah, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahmaan’ dan kasih sayang yang merupakan perbuatan Allah, yakni mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang disayangiNya, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahiim’. Jadi, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiiim adalah dua Asma’ Allah yang menunjukkan Dzat, sifat kasih sayang dan pengaruhnya, yaitu hikmah yang merupakan konsekuensi dari sifat ini.

Kasih sayang yang Allah tetapkan bagi diriNya bersifat hakiki berdasarkan dalil wahyu dan akal sehat. Adapun dalil wahyu, seperti yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang penetapan sifat Ar-Rahmah (kasih sayang) bagi Allah, dan itu banyak sekali. Adapun dalil akal sehat, seluruh nikmat yang kita terima dan musibah yang terhindar dari kita merupakan salah satu bukti curahan kasih sayang Allah kepada kita.

Sebagian orang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki ini. Mereka mengartikan kasih sayang di sini dengan pemberian nikmat atau kehendak memberi nikmat atau kehendak memberi nikmat. Menurut akal mereka mustahil Allah memiliki sifat kasih sayang. Mereka berkata : “Alasannya, sifat kasih sayang menunjukkan adanya kecondongan, kelemahan, ketundukan dan kelunakan. Dan semua itu tidak layak bagi Allah”.

Bantahan terhadap mereka dari dua sisi.

Pertama : Kasih sayang itu tidak selalu disertai ketundukan, rasa iba dan kelemahan. Kita lihat raja-raja yang kuat, mereka memiliki kasih sayang tanpa disertai hal itu semua.

Kedua : Kalaupun hal-hal tersebut merupakan konsekuensi sifat kasih sayang, maka hanya berlaku pada sifat kasih sayang yang dimiliki makhluk. Adapun sifat kasih sayang yang dimiliki Al-Khaliq Subhanahu wa Ta’ala adalah yang sesuai dengan kemahaagungan, kemahabesaran dan kekuasanNya. Sifat yang tidak akan berkonsekuensi negative dan cela sama sekali.

Kemudian kita katakan kepada mereka : Sesungguhnya akal sehat telah menunjukkan adanya sifat kasih sayang yang hakiki bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pemandangan yang sering kita saksikan pada makhluk hidup, berupa kasih sayang di antara mereka, jelas menunjukkan adanya kasih sayang Allah. Karena kasih sayang merupakan sifat yang sempurna. Dan Allah lebih berhak memiliki sifat yang sempurna. Kemudian sering juga kita saksikan kasih sayang Allah secara khusus, misalnya turunnya hujan, berakhirnya masa paceklik dan lain sebagainya yang menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lucunya, orang-orang yang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki dengan alasan tidak dapat diterima akal atau mustahil menurut akal, justru menetapkan sifat iradah (berkehendak) yang hakiki dengan argumentasi akal yang lebih samar daripada argumentasi akal dalam menetapkan sifat kasih sayang bagi Allah. Mereka berkata : “Keistimewaan yang diberikan kepada sebagian makhluk yang membedakannya dengan yang lain menurut akal menunjukkan sifat iradah”. Tidak syak lagi hal itu benar. Akan tetapi hal tersebut lebih samar disbanding dengan tanda-tanda adanya kasih sayang Allah. Karena hal tersebut hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang pintar. Adapun tanda-tanda kasih sayang Allah dapat diketahui oleh semua orang, tidak terkecuali orang awam. Jika anda bertanya kepada seorang awam tentang hujan yang turun tadi malam : “Berkat siapakah turunnya hujan tadi malam ?” Ia pasti menjawab : “berkat karunia Allah dan rahmatNya”

MASALAH

Apakah basmalah termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah ataukah bukan ?

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa basmalah termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah, harus dibaca jahr (dikeraskan bacaannya) dalam shalat dan berpendapat tidak sah shalat tanpa membaca basmalah, sebab masih termasuk dalam surat Al-Fatihah.

Sebagian ulama lain berpendapat, basmalah tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah. Namun ayat yang berdiri sendiri dalam Al-Qur’an.

Inilah pendapat yang benar. Pendapat ini berdasarkan nash dan rangkaian ayat dalam surat ini.

Adapun dasar di dalam nash, telah diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Aku membagi shalat (yakni surat Al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku. Apabila ia membaca : “Segala puji bagi Allah”. Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah memuji-Ku”. Apabila ia membaca : “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Maka Allah menjawab: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Apabila ia membaca : “Penguasa hari pembalasan”. Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. Apabila ia membaca : “ Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”. Maka Allah menjawab : “Ini separoh untuk-Ku dan separoh untuk hamba-Ku”. Apabila ia membaca : “Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”. Maka Allah menjawab : “Ini untuk hamba-Ku, akan Aku kabulkan apa yang ia minta” [3]

Ini semacam penegasan bahwa basmalah bukan termasuk dalam surat Al-Fatihah. Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyalahu ‘anhu, ia berkata : “Aku pernah shalat malam bermakmum di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca : “Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamin” dan tidak membaca ; ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim” di awal bacaan maupun di akhirnya. [4]

Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya. Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah.

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Al-Bukhari, dalam kitab Al-Idain, bab : Ucapan Imam dan makmum ketika khutbah ‘ied, no. (985). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : Waktu Udhiyah no. (1), (1960)
[2]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam kitab Adz-Dzabaih wa Ash-Shaid, bab : Sabda Nabi, “Sembelihlah dengan menyebut asma Allah”. no. (5500). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : waktu Udhhiyah, no. (2). (1960)
[3]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat, bab : Kewajiban membaca Al-Fatihah di setiap raka’at no. (38) (395)
[4]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat, bab : Argumentasi orang-orang yang berpendapat bacaan basmalah tidak dikeraskan, no. (52) (399).

Oleh: Telaga Kautsar | Juni 13, 2011

Bung Hatta, Proklamator yang Jujur dan sederhana

Source: Eramuslim
webgambar.blogspot.com

Bung Hatta terkenal dengan sikapnya yang selalu jujur, santun, dan hemat, selain pandai serta memiliki keberanian dalam diplomasi yang sudah terbuktikan dalam sejarah perjuangan bangsa menuju gerbang kemerdekaan. Meutia Farida Hatta Swasono, putri sulung Bung Hatta menulis di Harian Kompas (9/8/2002): “Keluargaku bukan keluarga yang mengejar kemewahan hidup. Bukan hanya ayahku saja yang berprinsip demikian, namun juga ibuku, Ibu Rahmi Hatta. ‘Kita sdh cukup hidup begini, yg kita miliki hanya nama baik, itu yang harus kita jaga terus,’ kenang Meutia Hatta sambil menirukan kata-kata sang Ayah kepada ibunya.”

Keberanian Bung Hatta dan Bung Karno membubuhkan tanda tangan pada naskah Proklamasi adalah risiko besar buat mereka berdua. Mereka bisa saja dituduh sebagai pemimpin pemberontakan, makar, penggulingan kekuasaan, bahkan kemungkinan sebagai tertuduh penjahat perang, oleh para penjajah.

Jepang yang sudah takluk dalam Perang Pasifik dan Perang Dunia II saja masih memperlihatkan minatnya menjajah Indonesia, apalagi dengan bangsa sekutu yang merasa di atas angin karena kemenangannya terhadap Jepang. Dan saat itu secara terang-terangan beberapa tokoh pergerakan yang menolak membubuhkan tanda tangan mereka (saat proklamasi akan diucapkan) atas alasan yang sama. Namun kedua Proklamator tersebut justru dengan gagah berani menanggung resiko besar itu, demi memberitakan Kedaulatan Indonesia.

Sikap santun Bung Hatta tak mengurangi keberaniannya memilah antara yang haq/benar dan yang salah. Saat mundur dari jabatan Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956, ia dengan elegan serta santun menyampaikannya kepada pemerintah. Ia merasa Bung Karno telah berlaku contradictio in terminis (di satu sisi ingin mewujudkan demokrasi, sedangkan di sisi lain duduk di atas demokrasi).

Sikapnya masih sama, tegas dalam bersikap namun tetap santun dalam mengemukakan argumentasinya. Sebelum mundur, ia sempat berkali-kali memberi masukan kepada sahabatnya itu, namun ketika Bung Karno tetap berjalan sesuai dengan konsepsinya sendiri, maka kemudian Bung Hatta dengan tegas undur diri.

Kejujuran Bung Hatta tidak diragukan. Bukan hanya jujur, tetapi juga menurut Jacob Oetama (Pemimpin Umum harian Kompas), Bung Hatta adalah jenis manusia yang uncorruptable, tidak bisa korupsi. Kejujuran hatinya membuat dia tak rela untuk sedikit saja menyimpang, sekedar menodainya dengan tindak korupsi.

Kalau saja ia mau melakukan korupsi, mungkin bukan hanya sepatu merek Bally yang mampu dibelinya, namun saham di pabrik sepatu tersebut bisa dibelinya. Dan setiap hari bisa dipastikan ia akan berganti-ganti sepatu baru. Namun, ia tak melakukan semua itu. Ia hanya menyelipkan potongan iklan sepatu merek Bally yang tidak mampu dibelinya hingga akhir hayatnya. Bahkan untuk membayar listrik rumahnya pun ia hanya mengandalkan uang pensiun sebagai Wakil Presiden. Berkali-kali ia menasehati keluarganya, untuk tidak mengambil selain yang menjadi haknya.

Hingga akhir hidupnya potongan iklan Sepatu Merek Bally tetap ia simpan sebagai kenang-kenangan bahwa nilai-nilai Kejujuran selalu mampu mengalahkan ego pribadinya sebagai manusia biasa. Bung Hatta adalah cermin seorang tokoh yang lurus dan bersih serta memiliki nama baik yang senantiasa terus dijaganya.

Oleh: Telaga Kautsar | Juni 13, 2011

Hukum Lelang dan Tender

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bapak Dr. Setiawan Budi Utomo yang saya hormati. Saya adalah seorang mahasiswi sebuah sekolah tinggi di Jakarta. Dalam aktivitas dan transaksi bisnis kontemporer baik yang dilakukan swasta maupun pemerintah, individu maupun lembaga sering dipakai cara lelang atau tender dalam penjualan suatu barang/jasa dan penawaran tender proyek.

Dalam praktiknya, tidak jarang terjadi penyimpangan prinsip syariah seperti manipulasi, kolusi maupun permainan kotor lainnya.

Dengan ini, saya ingin mohon jawaban fiqih kontemporer mengenai jual-beli lelang: Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan jual beli lelang itu dalam praktik bisnis dan kaitannya dengan tender. Bagaimana pendapat para ulama tentang jual beli lelang tersebut. Adakah unsur riba dalam jual beli lelang karena lelang itu sendiri dan apakah tidak termasuk larangan Nabi saw tentang menawar di atas tawaran orang lain. Bolehkah berprofesi sebagai juru lelang atau bekerja di balai lelang.

Demikian pertanyaan saya dan terimakasih atas penjelasannya. Jazakallahu khairan katsira.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Ningsih, Jakarta
Jawaban

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Syari’at Islam yang rahmatan lil ‘alamin memberikan kebebasan, keleluasaan dan keluasan ruang gerak bagi kegiatan usaha umat Islam dalam rangka mencari karunia Allah berupa rezki yang halal melalui berbagai bentuk transaksi saling menguntungkan yang berlaku di masyarakat tanpa melanggar ataupun merampas hak-hak orang lain secara tidak sah.(QS.An-Nisa’:29, Al-Mulk:15) Oleh karena itu sebelum memutuskan hukum syariah tentang lelang yang merupakan salah satu bentuk muamalah perlu dipahami terlebih dahulu mengenai ihwalnya.

Lelang (auction) menurut pengertian transaksi mua’amalat kontemporer dikenal sebagai bentuk penjualan barang di depan umum kepada penawar tertinggi. Lelang dapat berupa penawaran barang tertentu kepada penawar yang pada mulanya membuka lelang dengan harga rendah kemudian semakin naik sampai akhirnya diberikan kepada calon pembeli dengan harga tertinggi sebagaimana lelang ala Belanda (Dutch Auction) dan disebut (lelang naik).

Di samping itu lelang juga dapat berupa penawaran barang pada mulanya membuka lelang dengan harga tinggi, kemudian semakin menurun sampai akhirnya diberikan kepada calon pembeli dengan tawaran tertinggi yang disepakati penjual melalui juru lelang (auctioneer) sebagai kuasa si penjual untuk melakukan lelang, dan biasanya ditandai dengan ketukan (disebut lelang turun). Lelang ini dipakai pula dalam praktik penjualan saham di bursa efek dimana penjual dapat menawarkan harga yang diinginkan, tetapi jika tidak ada pembeli, penjual dapat menurunkan harganya sampai terjadi kesepakatan.

Menurut ketentuan yang berlaku di pasar lelang (auction market) yaitu suatu pasar terorganisir dimana harga menyesuaikan diri terus menerus terhadap penawaran dan permintaan serta biasanya dengan barang dagangan standar, jumlah penjual dan pembeli cukup besar dan tidak saling mengenal, pelaksanaan lelang dapat menggunakan persyaratan tertentu seperti si penjual dapat menolak tawaran yang dianggapnya terlalu rendah yaitu dengan memakai batas harga terendah/cadangan (reservation price) atau harga bantingan (upset price).

Hal itu dengan tujuan untuk mencegah adanya trik-trik kotor berupa komplotan lelang (auction ring) dan komplotan penawar (bidder’s ring) yaitu sekelompok pembeli dalam lelang yang bersekongkol untuk menawar dengan harga rendah, dan jika berhasil kemudian dilelang sendiri di antara mereka. Penawaran curang seperti itu disebut penawaran cincai (collusive bidding/collusive tendering). Adapun dalam kasus barang sitaan dalam kasus kepailitan atau lainnya, pembatasan harga terendah dilakukan untuk mencegah permainan curang antara pemilik barang dan pembeli (Friedman dalam Dictionary of Business Terms, 1987, An-Nawawi, Al-Majmu’, XII/304).

Sedangkan tender juga memiliki makna penawaran yaitu suatu penawaran atau pengajuan oleh pentender untuk memperoleh persetujuan (acceptance) mengenai alat bayar sah (legal tender), atau jasa guna melunasi suatu hutang atau kewajiban agar terhindar dari hukuman atau penyitaan jika tak dilunasi. Dalam kontrak bisnis, tender merupakan suatu penawaran yang dilakukan oleh pemasok (supplier) atau kontraktor untuk memasok/memborong barang atau jasa berupa penawaran terbuka (open tender) di mana para peserta tender dapat bersaing menurunkan harga dengan kualitas yang dikehendaki; atau berupa penawaran tertutup (sealed tender) di mana penawaran dimasukkan dalam amplop bermaterai dan dibuka secara serempak pada saat tertentu untuk dipilih yang terbaik dari aspek harga maupun kualitas dan para peserta dapat menurunkan harga lagi.

Tender juga sering dipakai untuk pelaksanaan suatu proyek di mana pemilik proyek melakukan lelang dan calon peserta/pelaksana proyek mengajukan penawaran atau tender dengan persaingan harga terendah dan barang/jasa yang sesuai. Biasanya yang sering terjadi penyimpangan dalam tender di antaranya berupa penawaran cincai/kolusi (collusive tendering) dengan praktik sogok dan atau cara lainnya yang tidak sehat untuk memenangkan penawaran/tendernya.

Pada prinsipnya, syariah Islam membolehkan jual beli barang/ jasa yang halal dengan cara lelang yang dalam fiqih disebut sebagai akad Bai’ Muzayadah. (Ibnu Juzzi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, 290, Majduddin Ibnu Taimiyah, Muntaqal Akhbar, V/101) Praktik lelang (muzayadah) dalam bentuknya yang sederhana pernah dilakukan oleh Nabi saw. ketika didatangi oleh seorang sahabat dari kalangan anshar meminta sedekah kepadanya. Lalu Nabi bertanya: “Apakah di rumahmu ada suatu aset/barang?” Ia menjawab ya ada, sebuah hils (kain usang) yang kami pakai sebagai selimut sekaligus alas dan sebuah qi’b (cangkir besar dari kayu) yang kami pakai minum air. Lalu beliau menyuruhnya mengambil kedua barang tersebut. Ketika ia menyerahkannya kepada Nabi, beliau mengambilnya lalu menawarkannya: “Siapakah yang berminat membeli kedua barang ini?” Lalu seseorang menawar keduanya dengan harga satu dirham. Maka beliau mulai meningkatkan penawarannya: “Siapakah yang mau menambahkannya lagi dengan satu dirham?” lalu berkatalah penawar lain: “Saya membelinya dengan harga dua dirham” Kemudian Nabi menyerahkan barang tersebut kepadanya dan memberikan dua dirham hasil lelang kepada sahabat anshar tadi.(HR.Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Ibnu Qudamah, Ibnu Abdil Bar dan lainnya meriwayatkan adanya ijma’ (kesepakatan) ulama tentang bolehnya jual-beli secara lelang bahkan telah menjadi kebiasaan yang berlaku di pasar umat Islam pada masa lalu. Sebagaimana Umar bin Khathab juga pernah melakukannya demikian pula karena umat membutuhkan praktik lelang sebagai salah satu cara dalam jual beli. (Al-Mughni, VI/307, Ibnu Hazm, Al-Muhalla, IX/468)

Pendapat ini dianut seluruh madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali serta Dzahiri. Meskipun sebenarnya ada sebagian kecil ulama yang keberatan seperti An-Nakha’i, dan Al-Auza’i. (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, II/165, Asy-Syaukani, Nailul Authar, V/191)

Jual-beli secara lelang tidak termasuk praktik riba meskipun ia dinamakan bai’ muzayadah dari kata ziyadah yang bermakna tambahan sebagaimana makna riba. Namun pengertian tambahan di sini berbeda. Dalam bai’ muzayadah yang bertambah adalah penawaran harga lebih dalam akad jual beli yang dilakukan oleh penjual atau bila lelang dilakukan oleh pembeli maka yang bertambah adalah penurunan tawaran. Sedangkan dalam praktik riba tambahan haram yang dimaksud adalah tambahan yang diperjanjikan dimuka dalam akad pinjam-meminjam uang atau barang ribawi lainnya.

Adapun praktik penawaran barang/jasa di atas penawaran orang lain sebagaimana dilarang oleh Nabi saw. dengan sabdanya: “Janganlah menawar sesuatu yang sudah ditawar orang lain dan jangan meminang pinangan orang lain” (HR. Bukhari dan Muslim), tidak dapat dikategorikan dalam jual-beli lelang ini sebagaimana dikemukakan oleh Az-Zaila’i dalam Tabyin Al-Haqaiq (IV/67).

Lebih jelasnya, praktik penawaran sesuatu yang sudah ditawar orang lain dapat diklasifikasi menjadi tiga kategori: Pertama; Bila terdapat pernyataan eksplisit dari penjual persetujuan harga dari salah satu penawar, maka tidak diperkenankan bagi orang lain untuk menawarnya tanpa seizin penawar yang disetujui tawarannya. Kedua; Bila tidak ada indikasi persetujuan maupun penolakan tawaran dari penjual, maka tidak ada larangan syariat bagi orang lain untuk menawarnya maupun menaikkan tawaran pertama, sebagaimana analogi hadits Fathimah binti Qais ketika melaporkan kepada Nabi bahwa Mu’awiyah dan Abu Jahm telah meminangnya, maka karena tidak ada indikasi persetujuan darinya terhadap pinangan tersebut, beliau menawarkan padanya untuk menikah dengan Usamah bin Zaid. Ketiga; Bila ada indikasi persetujuan dari penjual terhadap suatu penawaran meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit, maka menurut Ibnu Qudamah tetap tidak diperkenankan untuk ditawar orang lain.

Adapun mengenai tender pada substansinya tidak jauh berbeda ketentuan hukumnya dari lelang karena sama-sama penawaran suatu barang/jasa untuk mendapatkan harga yang dikehendaki dengan kondisi barang/jasa sebagaimana diminati. Namun untuk mencegah adanya penyimpangan syariah dan pelanggaran hak, norma dan etika dalam praktik lelang maupun tender, syariat Islam memberikan panduan dan kriteria umum sebagai guide line yaitu di antaranya:

1. Transaksi dilakukan oleh pihak yang cakap hukum atas dasar saling sukarela (‘an taradhin)
2. objek lelang dan tender harus halal dan bermanfaat,
3. kepemilikan penuh pada barang atau jasa yang dijual,
4. kejelasan dan transparansi barang/jasa yang dilelang atau dutenderkan tanpa adanya manipulasi seperti window dressing atau lainnya
5. kesanggupan penyerahan barang dari penjual,
6. Kejelasan dan kepastian harga yang disepakati tanpa berpotensi menimbulkan perselisihan.
7. Tidak menggunakan cara yang menjurus kepada kolusi dan suap untuk memangkan tender dan tawaran.

Segala bentuk rekayasa curang untuk mengeruk keuntungan tidak sah dalam praktik lelang maupun tender dikategorikan para ulama dalam praktik Najasy (komplotan/trik kotor tender dan lelang) yang diharamkan Nabi saw. (HR. Bukhari dan Muslim) atau juga dapat dimasukkan dalam kategori Risywah (sogok) bila penjual atau pembeli menggunakan uang, fasilitas ataupun service untuk memenangkan tender ataupun lelang yang sebenranya tidak memenuhi kriteria yang dikehendaki mitranya bisnisnya.

Dengan demikian hukum profesi juru lelang dan bekerja di balai lelang diperbolehkan dalam Islam selama memenuhi kriteria umum yang digariskan syariatnya seperti di atas.

Wallahu A’lam Wa Billahit taufiq wal Hidayah.
(Eramuslim)

Older Posts »

Kategori